Memulai pembelajaran di hari pertama

Cara mengajar seorang guru di sekolah kejuruan harus sedikit berbeda dengan guru di sekolah umum (baca : SMA). kita sebagai pengajar dituntut untuk menyiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang siap bekerja baik secara skill maupun mental. oleh karena itu, tidak sedikit pengajaran yang saya berikan berisi motivasi-motivasi dan ajakan untuk mencari minat dan bakat sesuai passion yang siswa miliki.

Sebelum saya berangkat lebih jauh membicarakan apa dan bagaimana saya memulai pembelajaran dengan metode saya sendiri, mari kita tinjau pendidikan yang terjadi di sekitar kita.

Meskipun pendidikan tingkat SMK dan Perguruan Tinggi sudah dikelompokkan berdasarkan subjek dan bidang tertentu, tidak sedikit bahkan banyak pelajar yang saya jumpai masih kehilangan arah. Layaknya seorang petualang di tengah hutan yang berlari kesana-sini tanpa mengetahui tujuan yang dia cari, atau layaknya kapten kapal yang mengarungi lautan tanpa mengetahui tempat berlabuh. beginilah kondisi pelajar kita pada umumnya. 

Dibeberapa kasus, banyak pula pelajar yang menyimpang dari tujuan pendidikan yang semestinya. Pendidikan seharusnya digunakan sebagai sarana untuk mencari ilmu, menambah pengetahuan atau sekedar menjawab rasa keingintahuan. Sering kita temui, ada beberapa dari siswa dan mahasiswa yang saya ajar hanya mencari nilai atau selembar kertas sertifikat/ijazah. Mereka mengira dengan nilai yang tinggi atau dengan menempuh pendidikan yang tinggi, mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus* dan penghidupan yang layak. Kita tidak tau darimana semua ini berakar, bisa jadi ada yang salah dengan sistem pendidikan kita, dan  ini merupakan tanggngung jwab kita semua (orang tua dan para pengajar).

Berangkat dari semua itu, ada beberapa hal yang saya coba demi mendapatkan cara yang tepat dan benar untuk menjadi seorang pengajar yang baik. Hal pertama yang saya lakukan ketika mengisi hari pertama di kelas adalah:

Menanyakan harapan mereka ketika berada disekolah
Pertanyaan diatas terlihat sepele dan bisa dijawab dengan enteng misalnya untuk belajar pak, biar pintar atau sekadar untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Jawaban tersebut tidaklah salah, namun jauh dari jawaban tersebut coba kita renungkan kembali pintar itu masih luas, pintar dalam bidang apa? bagaimana cara membuktikan kepintaran seseorang? kalo nilai dijadikan tolak ukur untuk menilai kepintaran seseorang maka jangan heran kalo banyak pelajar yang mengejar nilai semata.

Menanyakan cita-cita mereka
Pertanyaan ini lebih lucu lagi. mungkin sebagian orang sering menayakan hal ini ketika kita kecil. waktu kecil, cita-cita dan harapan itu sebetulnya masih buram. kenapa buram? anak hanya tau hal-hal tersebut berdasarkan dogma-dogma orangtua atau masyarakat sekitar yang terkadang tidak memberikan pilihan bagi seorang anak untuk berpikir. jawaban yang kita jumpai ketika bertanya hal ini adalah

saya ingin menjadi dokter,
saya ingin menjadi polisi,
saya ingin menjadi guru, dll

Cita-cita atau profesi yang disebtukan rata-rata pekerjaan mulia dan baik. namun, perlu di kaji kembali apakah pekerjaan atau profesi yang baik hanya sebatas itu? banyak profesi yang bisa disesuaikan dengan passion yang lebih subjektif atau khusus. contohnya Programmer, Designer, Atlit Sepakbola, Penulis, dan banyak hal lainnya. Selain itu, jarang sekali saya mendengar cita-cita seorang anak ingin menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan kerja.

Memberikan gambaran tentang hidup dan kehidupan

Semua orang yang bernyawa pasti merasakan kehidupan. tidak terkeculi siswa-siswi kita, namun kehidupan disini adalah kehidupan yang nyata, dimana kita harus berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Saat ini, mereka masih hidup didampingi oleh orangtua atau wali mereka.

kehidupan menurut KBBI adalah cara (keadaan, hal) hidup sedangkan “gaya hidup” menurut KBBI adalah: pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. untuk mendapatkan semua itu, maka siswa diarahkan untuk mulai berpikir bagaimana mereka mencari penghidupan/pencaharian di masa yang akan datang.

Banyak kita jumpai pekerjaan-pekerjaan yang dipandang sebelah mata, contohnya tukang parkir, tukang ojeg, pemulung, dll. pernahkah kita bertanya, Apakah mereka berharap untuk mendapatkan pekerjaan itu? Apakah mereka diberikan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak?

mungkin sebagian orang menganggap itu semua adalah takdir. takdir itu tidak bisa dirubah, dan pasrah dengan takdir yang diberikan. perlu diketahui bahwa takdir itu sesuatu hal yang ghaib. kita semua tidak ada yang tau mengenai takdir, jadi berusahalah untuk menjemput takdir yang baik. saya tidak akan berbicara panjang lebar mengenai takdir, berikut ini adalah penjabaran menganai takdir (Qodar)

Hukum Membicarakan Permasalahan Qadar

setelah memberikan gambaran mengenai kehidupan, mudah-mudahan siswa/i kita sedikit banyaknya bersiap diri untuk menyongsong kehidupan di masa yang akan datang. Mereka harus menyiapkan skill/kemampuan untuk bersaing di era globalisasi ini.

Saya yakin, sebetulnya sudah banyak guru yang memulai atau bahkan memiliki method yang lebih baik dari apa yang saya lakukan. demikian coretan-coretan yang saya tulis untuk berbagi pengalaman dan berharap mendapat masukan dari pembaca sekalian untuk menemukan method yang lebih baik dan cocok di lingkungan yang kita ajar.