Idealis X Pragmatis

Pertengahan tahun 2017 adalah pertengahan tahun yang luar biasa untuk saya. puncak karir saya sebagai seorang guru sedang dalam kondisi bagus dan ideal. Saya merasa bangga dengan pencapaian salah satu anak didik saya yang sudah melaju ke tingkat nasional dan bahkan menjadi runner up di LKS SMK Webdesign and development tahun 2017 di Surakarta beberapa bulan lalu. pertengahan taun ini pun berbarengan dengan kelahiran putri pertama kami, Maryam Fukayna Kaneez pada bulan Juli lalu.

Continue reading “Idealis X Pragmatis”

Kesempatan itu akan selalu ada bagi siapapun yg mampu melihat dan memanfaatkan peluang

10 tahun yg lalu, saya adalah peserta LKS tingkat provinsi Jawa Barat. waktu itu, memang sekolah kami hanya satu-satunya yg membuka jurusan IT jadi secara otomatis kita mendapatkan kesempatan mewakili Kabupaten Sukabumi di tingkat provinsi.

Jurusan kami multimedia. Teringat waktu itu nginstall wampp aja g ada yg ngerti, dan saya tau pas waktu lomba bahwa untuk membuat suatu halaman Web itu butuh pengetahuan HTML, CSS, dan PHP. Jadi, masih di tempat yg sama kala itu saya hanya membuat Web dengan menggunakan flash. Iyah Flash, Karena saya cuma bisa maenin flash kemudian saya embed ke Dreamweaver. Alhasil, Alhamdulillah mungkin bisa jadi juara paling akhir, lha wong g sesuai prosedur. Continue reading “Kesempatan itu akan selalu ada bagi siapapun yg mampu melihat dan memanfaatkan peluang”

Bagaimana seorang guru harus bersikap? 

Masih seputar pendidikan dan sejuta problematika yg mengiringinya. Kali ini saya ingin curhat mengenai problematika remaja. Bicara soal moral, pendidikan, attitude dan sekolah memang tidak sesimpel yang dibayangkan. Dibuat Simple Yah simple, dibuat runyem malah tambah runyem. 

Sebelum saya curhat ke pokok permasalahan, alangkah baiknya saya perkenalkan diri terlebih dahulu. Saya adalah seorang guru, mengajar di sekolah ini baru 2-3 tahun. Saya pun alumni di sekolah ini. Jadi, sedikit banyaknya saya memahami kenakalan remaja sekarang seperti apa. Kejadian yg menimpa sekolah kami pasti pernah dialami oleh beberapa sekolah yg serupa. Tidak bermaksud untuk mengingat luka lama, namun jadikanlah ini sebagai contoh dan problematika remaja saat ini. 

Masih ingatlah tawuran pelajar yg berujung kematian? Anak STM atau alumni STM mungkin sudah tidak syok lagi dengan hal ini. Berita lengkapnya bisa dilihat disini.  

Tawuran, Empat Pelajar Tewas


Klo melihat kejadian itu, kenakalan remaja sekarang sudah mendekati kriminalitas, tidak sedikit dan sering saya jumpai ada beberapa siswa yg berani mengancam siswa lain, mencederai dan lebih parahnya ada beberapa yg berani mengancam kami sebagai pendidik. 

Sudah banyak cara kami lakukan, mulai dari mewajibkan ekstrakulikuler sampai memadatkan pelajaran dari jam 07:00-16:00 setiap hari. dari mulai bersikap lunak sampai mungkin ada beberapa guru yg berani melakukan kekerasan. Respon yg diberikan siswa pun bermacam-macam. Ada yg menerima dengan lapang dada, ada yg berangsur-angsur membaik, ada yg melapor orang tua sampe ke meja hijau dan ada yg terang-terangan mengancam balik kami sebagai guru. 

Guru yg seyogyanya di hormati, di gugu dan ditiru, kini sebagian dari kami merasa terancam. Istri saya berkali-kali mengingatkan bahwa saya harus menjaga ucapan, karena menurut pengalaman dia ada guru yg di cederai oleh siswa dikarenakan ucapannya kebablasan. Saya sendiri seringnya tidak mengindahkan semua itu. Meskipun sampai detik ini, saya belum pernah main tangan, namun saya yakin ada beberapa dari siswa saya yg hatinya terluka atas ucapan saya. 

Bagi kami, guru di tingkat menengah memang harus extra sabar apalagi sudah menjadi adat istiadat secara turun tumurun bahwa anak SMK itu nakal-nakal, tukang berantem, dll. Saya sendiri, sampai saat ini belum menemukan metode yg pas bagaimana caranya menghadapi siswa yg seperti ini. Sebagai guru yg tergolong masih muda, sayapun sering diskusi dan Share sama guru senior langkah apa yg harus kita lakukan sebagai guru. 

Siswa yg masuk SMK rata-rata wataknya sudah terbentuk, mulai dari Sd, SMP sebetulnya mereka sudah menunjukkan gejala itu. Klo melihat film “Great Teacher Onizuka”, ah rasanya saya ingin seperti itu. Lebih dekat dengan siswa, tidak dibatasi aturan dan selalu memposisikan diri sebagai siswa. Memang pada dasarnya anak yg nakal adalah anak yg cenderung butuh perhatian, punya masalah keluarga, dan dilanda kegalauan. Namun sayangnya, ada beberapa orang tua yg tidak menyadari hal itu. Mereka (orangtua) ada yg dengan tegas memarahi anaknya di depan kami, ada yg tidak percaya dan berdalih tidak mungkin anaknya seperti itu, dan macam-macam.Tidak sedikit ada orangtua yg menangis takut anaknya dikeluarkan, ada juga yg dengan gagah berani menawarkan anaknya untuk dikeluarkan. Entahlah saya harus bilang apa klo sudah seperti ini. 

Harapan kami, sebetulnya adalah kerja sama dalam mengawasi anak. Terlebih saat mereka kecil sampe diusia remaja. Nyatanya, anak yg sudah terbentuk sampe usia SMA itu sangatlah sulit untuk dirubah. Bagaimana pun anak bapak dan ibu hanya berada di sekolah itu dibawah pengawasan kami tidak lebih dari 7-8 jam. Jadi, kami mohon bantu kami Guru-guru di sekolah dalam pendidikan anak. Jangan sampai tugas orangtua hanya menitipkan anaknya kepada kami. 

Meskipun guru di sekolah sebagai pengganti orangtua, namun tetap saja yg mereka butuhkan adalah kalian. Kalian para orangtua yg sibuk meeting sampe larut malam, kalian orangtua yg kerja saat liburan, kalian orangtua yg banting tulang bekerja berdalih untuk pendidikan dan masa depan anak-anak nya, kami mohin tolong lebih perhatikan lagi mereka. Kami disini berjuang dan berusaha mengevaluasi diri bagaimana memberikan pendidikan yg terbaik untuk anak-anak kita, untuk bangsa kita. 

Kami disini, bukan berarti tidak mau disalahkan atau berlepas tangan dari problematika yg terjadi, namun sekali lagi kami mohon kerja samanya. Tanpa kalian, dukungan para orangtua usaha kami mungkin tidak seberapa hanya sekian persen. 

Singkatnya, apa yg sudah saya sampaikan diatas adalah realita dan problematika yg mesti kita hadapi. Terima kasih bagi siapapun yg membaca tulisan saya, mudah-mudahan jadi bahan evaluasi untuk kita semua. Mari kita sama-sama berbenah diri untuk kebaikan kita semua. 

Selamat malam

Jangan Lupa diri. klo gunung ada puncak tertinggi, level manusia tidak bisa diukur

Ketika kita berbicara gunung pasti bisa kita sebutkan bahwa gunung tertinggi adalah gunung Everest. namun apakah kita bisa menyebutkan manusia terpintar dalam sejarah kebudayaan manusia? meski ada beberapa kajian dan artikel ilmiah yang menyebutkan IQ tertinggi di miliki oleh seseorang namun percayalah tolak ukur kepintaran dari masa kemasa itu berbeda. jadi, klo kita mengatakan si A itu jenius, pintar dan lain lain itu adalah masa dan zamannya saat itu. tidak ada jaminan bahwa dia akan menyandang status orang terpintar itu selamanya. berbeda halnya dengan gunung everest, dari taun ke tahun tidak akan ada yg menggantikan (kecuali gunungnya kiamat sob). 😀

Continue reading “Jangan Lupa diri. klo gunung ada puncak tertinggi, level manusia tidak bisa diukur”